Attack Class: From Australia to Satrol Armabar TNI AL

KRI Siada 862, ex-HMAS HMAS Barbette (P97)

KRI Siada 862, ex-HMAS Barbette (P97)

Seperti halnya hubungan antara Indonesia dan Malaysia, hubungan diplomatik dan politik antara Indonesia dengan Australia juga kerap mengalami pasang surut. Masih ingat pasca referendum Timor Timur tahun 1999, kala itu hubungan diplomatik bahkan militer kedua negara sempat memanas akibat kegiatan intelijen dan provokasi yang menjadikan lepasnya Timor Timur (sekarang Timor Leste). Tapi seiring dengan perubahan jaman dan orientasi politik, hubungan diplomatik, perdagangan, dan militer Indonesia – Australia kembali pulih, bahkan kini sedang mesra-mesranya.

Meski dari segi kiantitas tak seberapa, beberapa alutsista besutan Negara Kangguru nyatanya telah cukup familiar dipakai oleh TNI. Sebut saja armada pesawat intai maritim N22/N24 Nomad yang secara masif digunakan oleh Penerbal TNI AL. Bahkan bila menengok ke masa lampau, tepatnya di awal orde baru, armada jet tempur skadron 14 TNI AU diperkuat dengan 23 unit F-86 Avon Sabre. Meski Sabre aslinya buatan AS, tapi Sabre juga dibuat secara lisensi oleh pabrikan dirgantara Avon dari Australia. Kembali ke masa kini, atas restu AS tentunya, TNI AU dikabarkan segera mendapat hibah 4 unit C-130H Hercules bekas pakai RAAF (Royal Australian Air Force) yang rencananya datang pertengahan tahun ini. Di sektor latihan gabungan antar militer kedua negara juga berjalan harmonis, contohnya dengan adanya program Pitch Black Agustus 2012, dimana jet Sukhoi Su-27/30 TNI AU bertandang dan beradu manuver dengan F/A-18 Super Hornet RAAF di lanud Tindal, Darwin.

Nah, kembali ke judul tulisan ini, TNI AL nyatanya juga punya ‘kesan’ tersendiri pada alutsista buatan Aussie. Utamanya adalah Satrol (Satuan Patroli) Armabar (Armada Barat) TNI AL, yang telah cukup lama menggunakan kapal patrol cepat kelas Attack buatan Walkers Ltd of Maryborough, Queensland, beberapa juga dibuat oleh galangan Evans Deakin and Co, Brisbane. Seri kapal patroli ini dirancang untuk kebutuhan RAN (Royal Australian Navy) dan dibangun antara tahun 1967 dan 1969. Kapal cepat ini total diproduksi sebanyak 20 unit, desain utamanya untuk melaksanakan misi pengintaian dan pengawasan di sepanjang garis pantai Australia.

KRI Sibarau 847, ex- HMAS Bandolier (P95)

KRI Sibarau 847, ex- HMAS Bandolier (P95)

HMAS Advance P83, menjadmi penghuni Australian National Maritime Museum di Sydney

HMAS Advance P83, kini menjadi penghuni Australian National Maritime Museum di Sydney

Dari 20 unit kapal kelas Attack tersebut, delapan unit diantaranya kini masih digunakan oleh TNI AL. Lewat program hibah, secara bertahap mulai 16 November 1973, HMAS Bandolier (P95) telah berubah nama menjadi KRI Sibarau 847, kemudian 21 Mei 1974 HMAS Archer (P86) berubah nama menjadi KRI Siliman 848, 20 Mei 1982 HMAS Barricade (P98) berubah nama menjadi KRI Sigalu 857, 15 Juni 1984 HMAS Barbette (P97) berubah nama menjadi KRI Siada 862, 6 Mei 1983 HMAS Acute (P81) berubah nama menjadi KRI Silea 858, 12 September 1983 HMAS Bombard (P99) berubah nama menjadi KRI Siribua 859, 21 Februari 1985 HMAS Attack (P90) berubah nama menjadi KRI Sikuda 863, dan terakhir 18 Oktober 1985 HMAS Assail (P89) berubah nama menjadi KRI Sigurot 864.

Dari segi ukuran, kapal patrol ini terbilang imut, penulis beberapa waktu lalu sempat melihat langsung kapal ini di Australian National Maritime Museum di Darling Harbour, Sydney. Yang di display pada museum adalah HMAS Advance (P93), kapal ini secara keseluruhan punya panjang 32,8 meter, beam 6,1 meter, dan draught 2,2 meter. Berat kosong kapal ini 100 ton, sedangkan bobot tempur bisa mencapai 146 ton.

HMAS Advance

HMAS Advance

Sisi buritan HMAS Advance P83

Sisi buritan HMAS Advance P83

Wajar bila hingga kini Satrol TNI AL masih mengandalkan kapal cepat ini, pasalnya dengan tenaga 2 mesin Paxman V16 Ventura Turbo Charged Diesel 2611 Kw, serta jumlah 2 bilang baling-baling, kapal ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum hingga 24 knot (44 km/jam). Untuk urusan jangkauan operasi, bisa mencapai 1.200 nautical miles (2.200 km) pada kecepatan jelajah 13 knot. Bagaimana dengan urusan senjata? Untuk kelas kapal patroli, Attack class lumayan disegani dengan mengusung 1 pucuk kanon ringan Bofors 40mm pada haluan, sedang pada sisi buritan ditempatkan dua pucuk SMB (senapan mesin berat) M2HB Browning kaliber 12,7mm. Untuk navigasi terlihat hanya standard an konvesional saja. Kapal dengan rangka baja dan material lambung berbahan alumunium ini diawaki oleh 3 perwira dan 16 pelaut. Di lingkungan TNI AL, kelas kapal ini di komandani oleh seorang perwira berpangkat kapten.

RAN terakhir masih menggunakan kapal patrol ini pada tahun 1988, selain dihibahkan ke Indonesia, Attack class juga AL Papua Nugini. Sebagai gantinya, kemudian RAN mengusung kapal patroli kelas Fremantle yang dibuat 15 unit sampai tahun 2007. Kini Fremantle class juga telah dipensiunkan, sebagai gantinya adalah kapal patrol kelas Armidale (2005), sosok kapal patroli RAN dengan desain stealth yang mengusung kanon CIWS kaliber 25mm.

Tampilan sisi haluan HMAS Advance

Tampilan sisi haluan HMAS Advance

Inilah kapal patroli generasi kedua milik RAN, kelas Fremantle, beberapa kapal ini sempat ikut dalam parade "Arung Samudera 1995" di Teluk Jakarta

Inilah kapal patroli generasi kedua milik RAN, kelas Fremantle, beberapa kapal ini sempat ikut dalam parade “Arung Samudera 1995” di Teluk Jakarta

Era Fremantle class telah berakhir, kini RAN mengandalkan Armidale class, versi kapal patroli inilah yang menjadi lakon dalam serial Sea Patrol

Era Fremantle class telah berakhir, kini RAN mengandalkan Armidale class, versi kapal patroli inilah yang menjadi lakon dalam serial Sea Patrol

Yang juga unik diperhatikan, Australia terbilang gemar membuat serial drama berlatar AL, seperti drama TV Patrol Boat yang mengambil setting kapal patrol kelas Attack pada tahun 1979. Kalau tidak keliru, serial Patrol Boat sempat diputar di layar TVRI pada dekade 80-an. Kemudian dengan latar cerita yang serupa, pada tahun 2007 – 2011 ada film serial Sea Patrol, yang menekankan kapal patrol canggih kelas Armidale sebagai lakonnya. Total untuk Sea Patrol telah dibuat hingga 68 episode.

Secara teknologi tentunya kelengkapan senjata dan fasilitas yang ada di Attack kelas kini telah terpenuhi oleh industri Dalam Negeri, tapi pada masanya yakni di tahun 70-an dan awal 80-an, hadirnya kapal patroli bersenjata kanon ini ibarat angin segar bagi armada patroli TNI AL, terutama setelah militer Indonesia baru memasuki babak transformasi haluan alutsista dari blok Timur (Uni Soviet) ke produk besutan Barat. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Iklan

3 responses to “Attack Class: From Australia to Satrol Armabar TNI AL

  1. gak gigit!apalagi ngawal selat malaka or nakutin jiran.lebih cocok buat nangkep maling ikan.udah,jadiin sasaran tembak meriam ato rudal aja.ketuaan tuh kalo dipiara ngabisin anggaran aja.di darat boleh kita berkilah kreativitas bs ngalahin musuh yg superior.kalo laut n udara gak bs ditawar lg,kudu modern biar musuh keder!

    Suka

  2. ahhh iya, saya ingat film Patrol Boat di TVRI, kalau nggak salah diputar sehabis Dunia Dalam Berita jam 21.00. Jadi kangen dan teringat masa lalu, ternyata kapal yang sama juga dipunyai TNI AL, Bravo….

    Suka

  3. waaaa…. serial Patrol Boat di TVRI?? tahun berapa y??? haduuhhh pngen bgt liat…..dulu sempet nikmatin Thunder in Paadise di RCTI aktornya Hulk Hogan y sama2 film serial action dgn seting kapal, tp klo g salah pke kapal Fast atack Boat/Patrol Boat Riverine… klo sekarang???? hedeww… mw muntah liat acr televisi dr subuh sampe kembali subuh sinetron sma gosip artis…..gmn anak2 skrang g pada lebay+cengeng smua….??

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s