Category Archives: Resensi Buku

[Pemberitahuan] – Indomiliter.com Pindah Hosting

move-wordpress-to-new-host

Para pembaca blog yang budiman, guna optimalisasi fitur dan menu, Indomiliter.com akan berpindah hosting. Bila selama ini kami menggunakan hosting dari WordPress.com, maka selanjutnya blog ini akan menggunakan self hosted. Sementara nama domain tidak berubah, tetap Indomiliter.com. Dalam perpindahan hosting ini, belum ada yang berubah dari segi tampilan dan tata letak, kami kami masih menggunakan theme yang sama.

Namun, bagi pembaca yang selama ini telah subscribe email (follow) untuk berlangganan update postingan terbaru, sudilah kiranya untuk melakukan follow ulang pasca migrasi hosting. Sebagai media informasi dan diskusi seputar alutsista di Indonesia, kami akan terus menyajikan update konten terbaru dengan bahasan yang menarik.

Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, terima kasih atas dukungan para pembaca selama ini.

Salam hangat,

Haryo Adjie
Editor in Chief Indomiliter.com

Iklan

Misteri MH-370: Sempat Menghindari Pantauan Radar Kohanudnas!

cover-1

Boeing 777-200ER (extended range) milik Malaysia Airlines MH-370 adalah pesawat bermesin dua Roll-Royce Tren 892 yang dinilai memiliki teknologi tercanggih dan mencatat rekor keselamatan nyaris sempurna. Hari itu, 8 Maret 2014 pukul 00:41 waktu KL (Kuala Lumpur), MH-370 mengangkut 239 penumpang, termasuk 12 kru. Sesuai jadwal, pesawat akan mendarat pukul 06:30 waktu Beijing. Baca lebih lanjut

The King of Battle Artillery – TNI Angkatan Laut

buku

 “Tuhan berpihak pada pasukan pemilik artileri terbaik.” – Napoleon

Kutipan di atas menggambarkan betapa reputasi kesenjataan artileri sangat vital dan mematikan dalam pertempuran. Dalam Perang Dunia I, Perang Dunia II, bahkan perang yang lebih kuno, Perang Napoleon, artileri terus bertahan menjadi persenjataan yang paling efektif dan mematikan. Kekuatan artileri yang mumpuni membuka masuknya elemen infanteri menuju area lawan, mempersingkat jalannya peperangan dan menghancurkan sisi pertahanan dengan cara yang efektif pula. Baca lebih lanjut

Indonesian Missile – Perisai Angkasa Nusantara

Dengan pudarnya dominasi rudal di Indonesia, tentu ada perhitungan sendiri, di bawah panji kestabilan ekonomi dan membina hubungan yang baik di kawasan, pada era Soeharto pengembangan rudal mulai berjalan, walau sangat lamban, bahkan secara de facto etalase rudal Indonesia sudah tertinggal dari Singapura dan Malaysia.

Tapi harus diakui, tak serta merta sistem rudal Indonesia tertinggal secara keseluruhan, di lini rudal anti kapal, terlihat pemerintah sangat serius untuk memperkuat beragam rudal anti kapal, sebagai bukti adalah Yakhont, yang kini menjadi lambang supremasi alutsista Indonesia.

Khusus pada era orba, pemerintah nampak kurang mempersiapkan militer seumpama menghadapi konflik terbuka antar negara tetangga, berkat sosok Soeharto yang sangat disegani sebagai pemimpin pemerintahan paling senior di ASEAN, beragam alutsista di per-modern, tapi sayangnya dengan kuantitas yang serba minim. Tapi fakta kini berbicara lain, musim telah berganti, era baru pun harus disikapi secara tepat tanpa harus berlebihan. Dengan segala intrik dan konflik di seputar perbatasan, potensi munculnya perang antara negara bertetangga bisa saja meletus di masa mendatang.

Tanpa bermaksud mengharap datangnya peperangan, tapi diyakini, seandainya terjadi duel antara militer Indonesia dan Malaysia, beberapa lakon dalam pertempuran akan memunculkan nama Sidewinder, Maverick, Exocet, atau bisa jadi Yakhont. Uniknya antar negara tetangga di ASEAN, termasuk Malaysia dan Singapura, mempunyai karakter dan jenis alutsista yang serupa. Sebut saja seperti rudal Maverick, Sidewinder, RBS-70, dan Rapier dimiliki oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Inilah yang menarik untuk dicermati, konflik di masa mendatang akan terkait dengan teknologi tinggi, dan bisa dipastikan rudal akan selalu kebagian peran strategis yang menentukkan. Dalam buku “Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara” untuk pertama kalinya dibahas tentang sepak terjang dan etalase rudal yang dahulu dan kini memperkuat TNI.

Informasi Buku
Judul  : Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara
Penulis  : Haryo Adjie Nogo Seno
Penerbit : Matapadi Pressindo
Hal : xii+158
Harga : Rp45.000
Note : Tersedia di Toko Buku Gramedia

 

 

Buku : Monster Tempur – Kavaleri Indonesia

Setelah kesuksesan Jerman menggelar operasi Blitzkrieg pada awal Perang Dunia II, pamor kendaraan tempur seperti panser dan tank meningkat tajam dibandingkan pada masa-masa sebelumnya. Kesuksesan serangan Nazi Jerman atas Polandia yang didesain oleh Hanz Guderian ini berhasil mengubah secara drastis cara-cara manusia dalam melakukan pertempuran. Inilah yang kemudian menjadikan Perang Dunia II, yang dinamis dan cepat, sangat berbeda dari Perang Dunia I yang cenderung statis.

Dengan daya gerak, daya tembak, dan daya kejut yang besar, unit-unit kavaleri yang terdiri dari tank dan panser terbukti mampu memberikan pukulan yang mematikan bagi lawan. Operasi militer menjadi lebih efisien, cepat, dan tepat sasaran. Kesuksesan operasi, terutama operasi dalam skala menengah dan besar, kini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan elemen kavaleri. Inilah mengapa kavaleri menjadi satu unit penting dalam tubuh organisasi militer, termasuk di Indonesia.

Sebagai sebuah unit dalam tubuh militer Indonesia, unit kavaleri telah memiliki sejarah panjang. Bermula dari kendaraan tempur warisan Belanda, unit kavaleri pernah mengalami masa keemasan di era 1960-an ketika pemerintah melakukan pembelian kendaraan tempur dalam jumlah cukup banyak seperti tank AMX- 13 TNI AD dan tank PT-76 Korps Marinir TNI AL.

Namun, ada juga masa-masa krisis di mana unit kavaleri tidak dapat mengembangkan diri akibat embargo militer, baik material kendaraan maupun suku cadang. Sayangnya, ketika embargo berlalu, unit ini harus menghadapi persoalan lain dalam pengembangannya: keterbatasan anggaran. Alhasil, TNI hanya bisa berpuas diri dengan melakukan penyegaran (retrofit) pada kendaraan tempur lama yang kebanyakan telah uzur, terkadang telah mencapai usia operasional lebih dari 50 tahun.

Meski demikian, perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan warna yang lebih cerah bagi unit kavaleri Indonesia. Pernambahan anggaran kendaraan tempur dan pengadaan kendaraan tempur paling mutakhir gencar dilakukan oleh pemerintah. Yang lebih penting dari itu semua adalah adanya program pengembangan industri persenjataan dalam negeri. Dengan mengandalkan produk-produk lokal yang handal, cerita tentang mandeknya pengembangan akibat adanya embargo tidak akan terjadi lagi.

Buku ini adalah sebuah upaya untuk menengok ke dapur unit kavaleri di dalam tubuh TNI. Dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini membahas kendaraan-kendaraan tempur kebanggaan Indonesia. Tentu saja, ada keprihatinan melihat uzurnya kendaraan tempur kita, namun ada juga harapan melihat tekad TNI untuk terus melengkapi peralatan tempurnya dengan yang paling mutakhir.

Buku “Monster Tempur, Kavaleri Indonesia” telah tersedia di :
Toko Buku Gramedia, Toko Buku Gunung Agung dan Toko Buku Kharisma

Penulis : Haryo Adjie Nogo Seno
Penerbit : Matapadi Pressindo
Harga : Rp 49.000,-