h1

Unimog : Truk Off Road Andalan TNI

19/01/2010

Unimog 4000

Unimog di kalangan militer dan penggemar off-road, amat kesohor. Truk serbabisa ini di negara asalnya, Jerman telah menjadi legenda hidup berkat kemampuannya yang luar biasa dalam mengatasi medan berat apa pun! Di reli Paris-Dakar, kebolehan truk ini pun teruji dan mampu lolos dari lautan pasir dan medan ekstrem. Tentara di Indonesiapun memakainya sebagai kendaraan taktis (rantis) yang cukup diandalkan untuk mendukung setiap operasi.

Kapan Unimog pertama kali masuk ke Indonesia? Menurut Hardi Wibowo, Manager Government Sales PT DaimlerChrysler, truk ini masuk tahun 1958 untuk keperluan kendaraan angkutan Bulog. Jumlahnya mencapai ratusan unit. Masuk lagi pada tahun 1976 untuk keperluan Departemen Hankam/ABRI.
Jumlah Unimog terbanyak didatangkan pada tahun 1981 yakni tipe U1300L sebanyak 200 unit. Tipe ini dipakai militer untuk kebutuhan penarik meriam (artileri). Sekitar 1990-an, tambah Hardi, datang lagi 40 unit tipe U1550L untuk kebutuhan Marinir.

U4000
Belum lama ini, Daimler-Chrysler, pembuat Unimog mendatangkan 1unit versi terbaru yakni U4000 dan truk Atego 1017 ke Indonesia. Semula kendaraan ini akan diikutsertakan dalam sebuah pameran pertahanan di Jakarta, namun karena acara tersebut diundur maka ketimbang dikembalikan ke Jerman dilakukanlah uji coba. Uji coba tersebut untuk memperoleh sertifikat kelayakan sebagai kendaraan taktis yang dilakukan oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD.

Pengujian terhadap Atego 1017 sudah dilakukan sebelumnya, dan giliran U4000 baru direalisasikan pada 23 September sampai 5 Oktober lalu. Pada kesempatan itu SH turut menyaksikan proses uji coba kendaraan legendaris itu. Menurut Kolonel CZi Sugeng Hartono, selaku Kepala Pelaksana Kegiatan (Kalakgiat) Uji Coba, perjalanan yang ditempuh mencapai 4000 kilometer dengan start dari Bandung, dan melintas 3 provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tim uji coba yang terlibat sekitar 40 orang, ditambah masing-masing seorang pengamat dari kesatuan lain (Kostrad, Kopassus, dan Marinir). Yang menarik, uji coba dilaksanakan di banyak lokasi di sepanjang perjalanan. Pada titik-titik tertentu, lalu lintas dihentikan untuk menguji kemampuan Unimog. Contohnya ketika akan diuji melewati tanjakan sepanjang 4 kilometer. Jalur itu terpaksa dikosongkan dari kendaraan untuk menjaga keamanan. Setelah jalur steril, aba-aba diberikan dan Unimog dengan mulus melenggang naik.

Tanjakan Ciater tampaknya bukan apa-apa bagi U4000. Di sini dicatat waktu tempuh dan konsumsi BBM dalam jarak (tanjakan) tersebut.
“Ini barulah tanjakan pemanasan. Kalau tanjakan sebenarnya ada di Sarangan, Jawa Timur, yang akan dilewati juga. Di sana terdapat tanjakan dengan kemiringan 60 derajat, disertai banyak belokan tajam,” ujar Letkol CZi Setyo Budi, Ketua Tim Uji Lapangan.

Pada lintasan Bandung – Ciater – Tasik – Purwokerto, pengujian ditekankan pada daya jelajah di jalan raya, ketahanan gardan, konsumsi bahan bakar, daya suspensi, dan tanjak.

Uji serupa juga dilalukan pada rute Purwokerto – Salatiga- Sarangan. Hanya di sini ditambah dengan uji kemampuan maksimum dan penggunaan transmisi yang tampaknya berhasil dilewati oleh U4000. Padahal kondisi ban depan sebelah kanan ketika di Wates, tertancap sekrup. Sekrup tersebut oleh tim servis dibiarkan menancap bahkan diputar lebih dalam.

Unimog juga mampu dipasangi senjata pertahanan diri

Keunikan U4000 salah satunya, mampu memompa atau mengempeskan ban sendiri hanya lewat tombol berkat adanya Central Tyre Inflation System. Ban tubeless yang terkena sekrup jika kempes di perjalanan, maka pengemudi tinggal memencet tombol fungsi memompa. Tapi ini tidak dilakukan karena ban pacul Michelin yang dipakai, cukup kenyal dan tidak bocor setelah dicek dengan menyiramkan air pada sekrup yang tertancap itu.

Turunan Maut
Tanjakan dan turunan maut di Sarangan dianggap biasa-biasa saja bagi truk yang dijuluki “Badak Besi” ini. Sementara turunan ini membawa korban, jip yang ditumpangi SH bersama tim servis mengalami panas rem. Ketika sampai di Sarangan, barulah blong. Tikungan menurun dari arah Solo menuju Sarangan, memang bikin bulu kuduk berdiri. Apalagi ketika di lokasi ini, sudah malam. Konvoi kendaraan berjalan perlahan dan menjaga jarak aman.

Kekaguman para pengamat yang duduk di kabin terlontar atas unjuk kerja U4000. “Kendaraan ini lebih stabil, lembut, tapi powerfull, walau dibebani 2,5 ton semen,” ujar Kapten Jayus dari Kopassus. Sementara Kapten Mucklas dari Marinir juga mengomentari hal senada. Di kesatuannya memang ada 90 unit Unimog dari tipe U1300L.

Di lintasan Sarangan – Karang Ploso (Malang), pengujian “dag dig dug,” begitu istilah tim servis menyebutnya, dilakukan pada sistem parkir. Pada tanjakan dengan kemiringan 60 derajat, kendaraan ini berhenti menggunakan rem parkir selama beberapa saat untuk menguji kemampuan rem. Menurut penuturan tim penguji, pernah ada kendaraan yang melorot turun ketika diuji rem parkirnya di lokasi ini. “Tapi U4000 memang lain, oleh pembuatnya diciptakan khusus untuk hal-hal di luar dugaan,” tutur Lettu Johar Asmara, pengamat dari Kostrad.

Hal-hal di luar dugaan lain misalkan ketika mengurangi air radiator hingga 25 persen. Pengujian ini dilakukan pada lintasan Karang Ploso – Tulung Agung, setelah sebelumnya di Pusdik Arhanud, U4000 diuji menarik meriam seberat 2,5 ton. Di perjalanan dicatat sejauh mana kemampuannya dengan berkurangnya air pendingin dan pengaruhnya pada ketahanan mesin.

Tanjakan Simulasi
Yang menarik adalah ketika di Ambal, tempat laboratorium alam milik Dislitbang TNI AD, di Kebumen. Di sini terdapat medan simulasi berupa tanjakan, pasir, dan air. Pengemudi uji dari Dislitbang TNI AD, dalam uji tanjakan simulasi dan lintas air digantikan oleh Klaus Baeuerle, pengemudi dan teknisi spesialis Unimog yang didatangkan dari Jerman.

“Ini uji nyali, sebab posisi kendaraan nyaris tegak. Yang belum terbiasa melakukan harus tahu trik-trik dulu. Sebab U4000 diyakini mampu melibas medan yang lebih gila dari ini,” sambung Lettu Johar Asmara.

Usaha pertama Klaus gagal merayapi tanjakan tersebut. Baru pada usaha kedua, kendaraan tersebut merayap dengan mulus dan ini dilakukan berkali-kali. Begitu juga ketika U4000 menceburkan dirinya ke kolam lumpur, lancar-lancar saja.

Yang agak berat ketika dilakukan pengujian endurance 3 kali 24 jam. Artinya kendaraan tersebut tidak dimatikan mesin selama 3 hari 3 malam dan berjalan dengan kecepatan konstan. Inipun U4000 tidak mengalami persoalan.

Kendaraan ini pantas dijuluki “Badak Besi” karena melihat kekuatannya yang luar biasa. Tim penguji dalam memasuki minggu kedua, tampak sudah letoi, sementara U4000 kalau saja bisa berbicara akan mengatakan, “no problem” sembari tersenyum. (SH/gatot irawan)

h1

Oto Melara 76 mm : Meriam Reaksi Cepat TNI-AL

28/12/2009

KRI Karel Satsuit Tubun 356 - salah satu fregat kelas Van Spijk TNI-AL yang dibekali meriam Oto Melara

Meriam Oto Melara 76 mm terhitung sebagai meriam yang banyak di gunakan sebagai meriam utama di berbagai jenis pada kapal perang, meriam yang di produksi oleh perusahaan Otobreda Italia ini walaupun mempunyai kaliber yang tidak begitu besar namun bisa diandalkan, sehingga banyak dipercaya oleh produsen kapal perang di dunia untuk di pasang di atas kapal perang produksi mereka, mulai dari jenis kapal patroli, korvet hingga fregat.

Meriam Oto Melara 76 mm ini mampu menembak dengan kecepatan tinggi (rapid fire) sehingga cocok untuk digunakan sebagai meriam penangkis serangan udara, baik berupa peluru kendali maupun pesawat terbang dan helikopter. Dengan kaliber sebesar 76 mm, juga mampu digunakan sebagai meriam anti kapal permukaan, amunisi yang di pakai meriam ini terdiri dari berbagai jenis, diantaranya adalah jenis amunisi armour piercing, incendiary, directed fragmentation dan lain-lain, sedang untuk jarak tembak tergantung pada sudut tembakan dan material amunisi yang di gunakan, namun secara umum jarak tembak bisa mencapai antara 5.000 meter hingga 20.000 meter.

Meriam Oto Melara di KRI Diponegoro, fregat kelas SIGMA

Otobreda sebagai pabrikan Oto Melara 76 mm, juga mengeluarkan produk Meriam 76 mm dengan kubah anti radar sejak beberapa tahun yang lalu, untuk saat ini salah satu kapal yang sudah menggunakan kubah stealth dari Otobreda adalah kapal perang dari jenis fregat kelas Fridtjof Nansen milik Angkatan Laut Norwegia.

Sedang untuk penggunaan Meriam Oto Melara 76 mm dengan kubah standar TNI AL tercatat sebagai salah satu penggunanya, meriam ini dapat kita jumpai pada empat korvet SIGMA yang baru saja datang ke Indonesia. Tapi jauh-jauh hari sebelumnya, Oto Melara juga sudah menjadi standar persenjataan pada enam fregat TNI-AL kelas Van Spijk yang dibeli bekas dari Angkatan Luat Belanda pada tahun 90-an. Jadi Oto Melara bukan sesuatu yang baru lagi, dan teknologinya sudah dikuasai penuh oleh TNI-AL.

Dua tipe Oto Melara - gambar atas menunjukkan kubah versi stealth yang lebih baru

Oto Melara saat memuntahkan amunisi 76 mm

Namun Indonesia bukan yang pertama untuk kawasan Asia Tenggara sebelumnya sudah ada Malaysia dan Thailand yang telah menggunakannya terlebih dahulu. Tidak dapat di sangkal lagi, Meriam Oto Melara 76 mm merupakan meriam yang banyak di minati oleh angkatan laut dunia, lebih kurang 53 Angkatan Laut telah menggunakan meriam jenis ini.

Visual bagian internal meriam Oto Melara

Oto Melara dalam proses pabrikasi

Sekedar informasi, sejak september 2006 lalu Iran telah mengumumkan produksi masal meriam yang di beri nama Fajr 27, yang tak lain dan tak bukan merupakan hasil reverse-engineered meriam Oto Melara 76 mm ini, yang jadi pertanyaan iseng adalah… kapan giliran indonesia bikin reverse-engineered meriam ini? (dikutip dari www.tniad.mil.id)

Tipe : Naval gun
Negara pembuat : Italy
Weight 7500 kg (without ammunition)
12.34 kg (complete round)
Shell 76 mm × 900mm (complete round)
Caliber 62 caliber 76 mm
Elevation -15°/+85°
speed:35°/s (acceleration: 72°/s²)
Traverse 360°
speed: 60°/s (acceleration: 72°/s²)
Rate of fire Compact: 85 round/min
Super Rapid: 120 round/min
Muzzle velocity 925 m/s
Maximum range Compact: 20,000 m (HE round at 45°)
Super Rapid: 30,000 m (HE round at 45°)
Feed system Magazine: Compact: 80 ready rounds on gun mount
Super Rapid: 85 ready rounds on gun mount

h1

F-5E TigerII : Macan Angkasa Andalan Skadron 14

30/11/2009

F5E (kursi tunggal) Tiger II - Skadron 14

Kamis pagi, 27 April 2000, dua F-5E Tiger TNI-AU segera mengudara setelah mendapat kode “scramble” dari menara pengawas. Dengan cepat kedua jet tempur itu melejit menuju area di sekitar pulau Roti, Timor Barat. Tak berapa lama, pada ketinggian 29 ribu kaki, mereka menemukan apa yang dicari, satu gugus terbang yang terdiri dari lima pesawat: Satu pesawat tanker udara, diikuti empat F/A-18 Hornett di belakangnya, milik angkatan udara Australia (RAAF) dari Skadron 75. Itu diketahui dari identitas di ekor pesawat.

Gugus terbang itu ditangkap satuan radar sejak berjarak 120 mil laut dari Kupang. Tak ada keterangan apapun mengenai gugus terbang itu, tak juga ada ijin melintas wilayah udara Indonesia yang diterima pihak Pangkalan Udara El Tari, Kupang. Karenanya, gugus terbang itu dianggap blackflight, penerbangan tak dikenal, dan harus dicegat. Untuk itulah dua jet tempur berjuluk “Tiger” ini diterbangkan.

Manuver 3 F-5E Tiger TNI-AU

Suasana sempat tegang, karena pilot Tiger tak bisa berkomunikasi lewat radio dengan pilot Hornett. Bukan tak mungkin itu akan memicu konflik. Kalau terpaksa harus duel, bagaimana jadinya dua Tiger yang kalah jumlah, harus menghadapi empat Hornett RAAF yang lebih canggih. Pada saat itu, kedua pilot Tiger TNI-AU mencoba mendekati Hornett sampai kontak visual bisa dilakukan.

Ketika itulah, pilot-pilot F-5E melihat pilot Hornett memberi isyarat mengangkat tangan, tanda mereka tak bersenjata. Dengan bahasa tarzan juga, pimpinan penerbangan Hornett, yang diketahui berangkat dari Lanud Tindall, Australia, memberi tahu mereka sudah mendapat clearance untuk lewat wilayah udara Indonesia. Tujuannya adalah Singapura. Suasana pun mencair, kedua belah pihak saling memberi hormat. Sesuai aturan internasional, kedua Tiger tetap mengawal gugus terbang RAAF itu, hingga masuk jalur internasional, menuju Paya Lebar, Singapura.

Deretan F-5E/F bersiaga di apron

Macan Kecil
Dua F-5E Tiger II yang menyergap rombongan Hornett tadi berasal dari Sakdron Udara 14, yang berpangkalan di Lanud Iswahyudi, Madiun. Mereka saat itu tengah ditempatkan di Kupang, untuk mendukung tugas patroli dan pengamanan wilayah udara Indonesia di kawasan Timur. Skadron Udara 14 mendapat 12 unit F-5E Tiger II yang berkursi tunggal, dan 4 F-5F berkursi ganda pada tahun 1980 silam, seiring dengan revitalisasi kekuatan udara Indonesia, yang sempat gembos pasca berakhirnya hubungan mesra dengan Soviet.

Jet-jet tempur berhidung lancip ini, sebenarnya lumayan populer dan banyak digunakan di negara-negara Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Terutama negara-negara sahabat AS. Karena memang, pesawat ini dilahirkan untuk memenuhi kebutuhan pesawat tempur negara-negara sekutu AS dalam NATO dan SEATO. Di tanah kelahirannya sendiri, jet buatan pabrikan Northrop ini malah tak begitu banyak digunakan.

F-5F (dua kursi/latih) Skadron 14

Northrop mendesain pesawat ini berdasarkan hasil studi kebutuhan militer di Eropa dan Asia. Dari studi itu, paling tidak adasejumlah faktor yang harus dipenuhi. Antara lain, pesawat tersebut harus cukup canggih dan tak ketinggalan jaman. Artinya, jet perang itu harus bisa terbang supersonik. Harus murah, dengan menimbang kemampuan keuangan negara-negara (calon) pemakai, yang sebagian besar perekonomiannya belum kuat. Mesti mudah pula dioperasikan dan mudah dirawat.

Pada 1955, Northrop mengajukan konsep jet tempur ringan modern ke pihak Angkatan Udara AS (USAF). Penempur supersonik itu, didesain sebagai jet tempur untuk serang darat (air to ground role), sebagai bagian dari misi penyerbuan. Murah harganya,mudah pengoperasiannya, mampu take-off dan landing di landasan pendek, serta mudah perawatan. Tapi USAF menolak proposal itu. USAF tak butuh burung besi seperti itu.

Visual kokpit F-5E Tiger II

Tujuh tahun kemudian, tahun 1962, jet tempur ringan ini barulah mendapat tempat. Departemen Pertahanan AS di bawah pemerintahan Presiden Kennedy, memilih pesawat ini untuk program MAP (Military Assistance Program), program bantuan militer AS kepada sekutu-sekutunya di NATO dan SEATO. Prototipe berkode N-156, yang terbang pertama kali pada July 1959 itu, mulai diproduksi pada tahun 1963. Northrop memberi nama penempur mungil yang lincah ini F-5A Freedom Fighter, si Pejuang Kebebasan. Versi tempat duduk ganda, yang berfungsi sebagai pesawat latih, diberi kode F-5B.

F-5E Tiger II TNI-AU dengan muatan bom dan rudal sidewinder di sayap

Bagian badan (fuselage) pesawat perang ini langsing, dengan hidung yang runcing panjang. Mirip dengan ikan todak. Bentang sayapnya yang pendek, nampak seperti tidak proporsional dengan bodynya yang panjang singset seperti itu. Namun jangan tanya soal kemampuan. Freedom Fighter bisa melejit dengan kecepatan 1,4 Mach di ketinggian 36 ribu kaki, berkat dorongan sepasang mesin J85-GE-13 Turbo Jet, buatan General Electric, mesin kecil berdaya dorong besar. Mampu mencapai ketinggian terbang 50.500 kaki. Mampu menjangkau jarak 1.387 mil dengan tanki penuh, sementara radius tempur dengan perlengkapan penuh, mencapai 195 mil. Atau dengan tanki penuh plus dua bom, mencapai 558 mil.

Jet supersonik mungil ini mampu bermanuver dengan lincah, bisa menggendong dua rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder di ujung sayapnya (wingtip). Lima cantelan di sayap dan badan, mampu menggendong beban 6200 pounds. Bisa berupa tangki cadangan, bom, misil udara ke darat, serta 20 roket. Di moncongnya yang mancung, dipasangi sepasang kanon 20 mm jenis M39 dengan 280 putaran. Tapi sebagai pesawat yang didesain untuk serang darat, kemampuan tarung udaranya (air to air) memang terbatas.

Senapan mesin kaliber 20 mm dengan penutup yang dibuka

Kehandalan jet yang sejatinya untuk negara-negara kelas dua itu, tak ayal menarik perhatian USAF juga. Pada 1965 mereka meminjam 12 unit Pejuang Kebebasan dari stok MAP, untuk uji coba di palagan Vietnam, yang menjadi kancah jet-jet buatan Rusia, semacam Mig-15, Mig-17, dan yang paling gres, Mig-21 unjuk kebolehan. Program itu diberi kode nama “Skoshi Tiger”, alias “Little Tiger” (macan kecil). Sejak itulah, F-5 mendapat julukan baru, Tiger, alias si macan. Kelak, nama itulah yang terus melekat, menggeser julukan Pejuang Kebebasan.

Berbarengan dengan produksi F-5A/B untuk negara-negara pemesan, Northrop melakukan proyek peningkatan kemampuan si Macan Kecil. Airframe dimodifikasi, sehingga bagian fuselage menjadi lebih besar, sehingga tankinya juga bisa diperbesar. Dengan demikian, daya angkut bahan bakar juga lebih banyak, bisa terbang lebih lama dan lebih jauh. Dengan tanki serta dua rudal side wider di wingtip-nya, punya radius tempur 656 mil. Jarak jangkau maksimalnya menjadi 1.543 mil.

Bagian sayap juga dipermak, menjadi lebih besar, dan ditambahi sirip sayap (flap) yang bisa diatur dalam empat moda, yang membuatnya punya sudut serang (angle of attack) lebih baik, lebih lincah bermanuver, terutama pada kecepatan tinggi. Sepasang mesinnya ikut di-upgrade, dengan J85-GE-21 Turbojet yang lebih digdaya. Ini membuat Tiger baru ini mampu melesat dengan kecepatan maksimum 1,6 mach, atau 1,5 mach dengan ujung sayap (wingtip) dicanteli rudal AIM-9 Side Winder. Terbangnya juga lebih tinggi, mencapai 51.800 kaki. Sebagai perbandingan, jet baru yang diberi kode F-5A-21 ini punya kemampuan menanjak meningkat 23% lebih baik dibanding Tiger lama, kemampuan beloknya meningkat 17%, radius putar meningkat 39%.

Tak hanya airframe, jeroannya juga di-upgrade. Sisi avionik Hoffman Electronics AN/ARN-56 TACAN, Magnavox AN/ARC-50 UHF, AN/APX-72 IFF/SIF, automatic UHF DF, AN/AIC-18 intercom, SST-181 X-band Skyspot radar transponder, dan solid-state attitude and heading reference system terbaru. Perangkat radar dari Emerson Electric AN/APQ-159 berkemampuan mencium jejak musuh dalam jarak23 mil, juga menambah kesaktian Tiger baru ini. Untuk fire control, dipasanglah jendela bidik optikal AN/ASG-31 yang terintegrasi dengan radar penjejak.

Hasil pengembangan ini adalah, Tiger baru yang lebih sakti untuk tarung udara. Cocok digunakan untuk misi meraih keunggulan udara (air superiority). Northrop membaptis jet baru ini dengan kode F-5E Tiger II. Versi tempatduduk gandanya diberi kode F-5F. Pesawat inilah yang kemudian memenangkan tender dari USAF untuk program IFA (International Fighter Aircraft), pada tahun 1970. Mengalahkan pesaingnya dari Ling-Temco-Vought dengan V-1000, yang merupakan pengembangan dari F-8 Crusade, Lockeed dengan CL-1200 Lancer, yang dikembangkan dari F-104 Starfighter, serta McDonnel Douglas, yang mengajukan versi modifikasi Phantom. Proyek ini diadakan untuk mengantisipasi ancaman –pada era perang dingin—jet musuh, yang dalam andalan Soviet, Mig-21 Fishbed. Tiger II dianggap cocok untuk meladeni Fishbed, yang ketika itu berstatus jet tempur paling mutakhir milik blok Timur.

Seiring dengan mulai produksinya Tiger II, maka era Tiger I, si Macan Kecil pun berakhir sudah. Produksinya dihentikan pada tahun 1972. Sesuai tujuan penciptaannya, Tiger II mulai memperkuat kekuatan udara negara-negara sekutu AS. Beberapa negara memesan Tiger II dengan tambahan atau perubahan peralatan. Dan memang Northrop menyediakan opsi bagi pemesannya untuk membuat F-5E sesuai keinginan negara pemesan. Misalnya perangkat radio dan avionik yang lebih modern. Bisa pula dipesan dengan kelengkapan chaff/flare (pengalih rudal). Beberapa versi, dilengkapi dengan kemampuan pengisian BBM di udara, seperti F-5E yang dimiliki angkatan udara Singapura.

Bahkan, beberapa negara pemesan, seperti Iran dan Arab Saudi, menginginkan F-5E mereka didesain punya peran utama sebagai jet serang darat. Untuk keperluan itu, dibuat varian F-5E yang dilengkapi sistem LATAR (laser-augmented target acquisition and recognation) –sistem laser pemandu tembakan ke sasaran darat. Varian ini juga dibekali kemampuan menggendong AGM-65 Maverick, rudal udara ke darat.
Sejumlah F-5E juga dibuat di beberapa negara berdasarkan lisensi dari Northrop. Swiss memproduksi 90 unit, Korea Selatan membuat 68 unit, dan Taiwan memproduksi 380 unit. Northrop sendiri memproduksi 792 F-5E (kursi tunggal), 140 F-5F (kursi ganda), dan 12 RF-5E (versi pengintaian udara/recon).

Indonesia mendatangkan 12 F-5E dan 4 F-5F versi standar pada tahun 1980 silam, lewat program Foreign Military Sales (FMS). Penempur yang masih gres itu datang dari pabrik Northrop dalam bentuk terurai, dalam dua tahap. Tahap pertama pada bulan April dan tahap kedua pada bulan Juli. Perakitan dilakukan di hanggar Lanud Iswahyudi, Madiun, yang nantinya jadi markas kawanan Macan udara itu. Tiger II resmi digunakan pada Mei 1980, masuk Skadron Udara 14 Buru Sergap, di bawah Wing Operasional 300, menggantikan F-86 Avon Sabre, yang sudah uzur. Peresmiannya, ketika itu, dilakukan oleh Menhamkan Pangab Jenderal M. Yusuf.

Upgradable
Saat ini, banyak Tiger II yang sudah pensiun dari operasional. Namun, tetap banyak juga yang masih membelah langit. Maklum, meski sudah terbilang “tua”, jet tempur generasi ketiga ini biar bagaimanapun masih bisa diandalkan sebagai alat penjaga kedaulatan langit. Apalagi bila kemampuannya ditingkatkan (up-grade), serta peralatannya dimodernisasi. Seperti yang dilakukan Singapura, dengan memodernisasi dan mendesain ulang armada F-5E milik mereka, dengan radar baru FIAR Grifo-FX Band, buatan Galileo Avionica. Kokpit didesain ulang, menjadi lebih modern, dengan display multi fungsi, serta menambah kemampuan untuk menembakkan rudal udara ke udara AIM-120 AMRAAM dan Rafael Phyton, jenis rudal yang masuk kategori BVR (beyond visual range).

Thailand juga memodernisasi sejumlah F-5E mereka, yang dilakukan di Israel, sehingga bisa menggendong rudal Phyton III dan IV, diintegrasikan dengan helm DASH, sehingga pilotnya bisa mengunci sasaran hanya dengan menoleh ke arah sasaran. Upgrade yang dikerjakan oleh Israel ini, menghasilkan varian yang diberi nama F-5T Tigris. Varian ini tak memiliki kemampuan menembak misil BVR.

F-5E milik AU Kanada yang di upgrade menjadi CF-5E Tiger. CF-5 punya kemampuan isi ulang bahan bakar di udara.

Indonesia juga sebenarnya tak ketinggalan, dengan melakukan upgrade pada armada Tiger II Skadron 14 lewat program MACAN (Modernize of Avionics Capabilities for Armament & Navigation), yang dikerjakan perusahaan Belgia SABCA. Program yang dilakukan pada tahun 1995 ini, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan elektronik dan persenjataan, agar setidaknya kemampuan F-5E Tiger II bisa setara dengan kemampuan F-16 Fighting Falcon, jet tempur generasi empat yang masuk kekuatan udara Indonesia pada tahun 1989 silam.
Upgrade itu meliputi pemasangan GEC-Marconi Avionics HUD/WAC, dan Sky Guardian RWR. Sistem komputerisasi juga ditingkatkan dengan sistem air data computer mutakhir. Peningkatan dilakukan juga pada stores management system, HOTAS control, dan MIL-STD 155eB databus. Radar APG-69 (V) 3 yang sudah lawas, diganti dengan radar (V) 5 standar. Makanya, meski kalah mutakhir dari Hornett –yang notabene perancangannya banyak mengadopsi platform dari F-5E—Macan-macan udara dari Skadron 14 masih sanggup mengejar, dan menggertak Hornett Australia dalam insiden Pulau Roti. Macan Skadron 14 mampu membuktikan fungsinya sebagai skadron buru sergap.

Namun sekarang, dari 16 unit F-5E/F yang ada, lebih dari separuhnya tak bisa menjelajah langit, alias tak siap operasional. Seretnya suku cadang, minimnya anggaran (perawatan), ditambah dampak embargo senjata yang pernah diterapkan AS, membuat Macan-macan udara kita terpaksa lebih banyak ngendon di hanggarnya. Bahkan satu Tiger II, pernah bertahun-tahun tersandera di Amerika, dan baru bisa diambil pulang ketika embargo mulai dicabut. Pesawat itu tadinya dalam program perbaikan. Namun dengan adanya embargo senjata, AS tak mengijinkan pesawat itu diserahkan kembali ke Indonesia.

Kondisi ini memang sungguh memprihatikan. Mengingat kekuatan penuh macan-macan angkasa itu sebenarnya masih sangat diperlukan untuk menjaga kedaulatan langit Indonesia, yang sangat luas itu. (Aulia Hs)

Spesifikasi:
Awak: 1 (F-5E), 2 (F-5F)
Panjang: 47 ft 4¾ in (14.45 m)
Bentang sayap: 26 ft 8 in (8.13 m)
Luas sayap: 186 ft² (17.28 m²)
Tinggi: 13 ft 4½ in (4.08 m)
Berat Kosong: 9,558 lb (4,349 kg)
Max takeoff weight: 24,664 lb (11,187 kg)
Mesin: 2× General Electric J85-GE-21B turbojet
Daya dorong: 3,500 lbf (15.5 kN) per mesin.
Daya dorong dengan afterburner: Masing-masing 5,000 lbf (22.2 kN)
Kapasitas tangki internal: 677 US gal (2,563 L)
Kapasitas tangki eksternal: 275 US gal (1,040 L) per tanki, mampu membawa hingga 3 tanki

Performance
Kecepatan maksimum: 917 kn (1,060 mph, 1,700 km/jam, mach 1.6)
Jangkauan: 760 nmi (870 mi, 1,405 km)
Jangkauan maksimum: 2,010 nmi (2,310 mi, 3,700 km[40])
Ketinggian maksimum: 51,800 ft (15,800 m)
Kecepatan menanjak: 34,400 ft/min (175 m/detik)

Persenjataan:
Gun: 2× 20 mm (0.787 in) Pontiac M39A2 cannons in the nose, 280 rounds/gun
Hardpoints: 7 total (3× wet): 2× wing-tip AAM launch rails, 4× under-wing & 1× under-fuselage pylon stations holding up to 7,000 lb (3,200 kg) of payload.
Rockets:
2× LAU-61/LAU-68 rocket pods (each with 19× /7× Hydra 70 mm rockets, respectively); atau
2× LAU-5003 rocket pods (each with 19× CRV7 70 mm rockets); atau
2× LAU-10 rocket pods (each with 4× Zuni 127 mm rockets); atau
2× Matra rocket pods (each with 18× SNEB 68 mm rockets)

Rudal:
Air to Air:
4× AIM-9 Sidewinders atau
4× AIM-120 AMRAAMs
Udara ke darat:
2× AGM-65 Mavericks

Bombs:
Aneka bom udara-darat semacam bom tanpa pemandu Mark 80 series (termasuk 3 kg and 14 kg practice bombs), CBU-24/49/52/58 cluster bomb munitions, napalm bomb canisters dan M129 Leaflet bom.

Avionics
AN/APQ-153 radar pada F-5E generasi awal
AN/APQ-159 radar pada F-5E generasi akhir

h1

Tetral : Rudal Anti Pesawat Terbaru TNI-AL

26/10/2009
Tetral tampak di atas ruang navigasi KRI Diponegoro 365

Tetral tampak di atas ruang navigasi KRI Diponegoro 365

Seiring hadirnya empat korvet terbaru TNI-AL dari kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) yang dibeli dari galangan Schelde Naval Shipbuilding, Belanda. Maka otomatis TNI-AL mendapat tambahan alutsista (alat utama sistem senjata) anyar berupa rudal anti pesawat ringan, Tetral. Rudal ini menjadi bagian melekat dari korvet SIGMA yang juga dikenal sebagai kapal perang kelas Diponegoro. Pada tiap korvet SIGMA dilengkapi dua sistem peluncur, masing-masing peluncur memuat empat rudal.

Tetral sendiri merupakan teknologi sistem peluncur, sedangkan basis rudalnya mengambil dari jenis Mistral. Mistral adalah rudal ringan jarak dekat yang sangat populer di pasar dunia, rudal ini dibuat oleh MBDA di Perancis. Keunggulan Tetral yakni sistemnya dapat bekerja otomatis, dikendalikan secara remote dan tergolong low maintenance. Desain Tetral dirancang untuk dipasangkan pada kapal perang dengan konsep stealth.

Tetral pada buritan KRI Diponegoro

Tetral pada buritan KRI Diponegoro

Meski tergolong rudal ringan jarak pendek, Tetral bisa melahap multi target, termasuk target yang bermanuver cepat, dalam hal ini seperti pesawat tempur dan helikopter, bahkan Tetral bisa melahap target berupa rudal. Dalam rilis yang dikeluarkan MBDA, tingkat success rate Tetral mencapai 93 persen. Untuk menghajar target, rudal ini dilengkapi kendali berupa canard dan sistem sensor pengarah berupa passive IR (infra red) homing. Sensor passive IR akan bekerja 2 detik setelah peluncuran.

Sistem peluncur Simbad yang dioperasikan manual

Sistem peluncur Simbad yang dioperasikan manual

Dalam pengoperasiannnya, Tetral dikendalikan dari PIT (pusat informasi tempur), berat rudal ini hanya 18.7 Kg, dimana 3 Kg nya merupakan bobot bahan peledak. Sebagai rudal penghancur target jarak pendek, jangkauan Tetral memang hanya sekitar 5.3 Km, tapi soal kecepatan jangan ditanya, rudal ini bisa melesat dengan kecepatan maksimum 2.5 Mach. Sebelumnya TNI-AL juga sudah akrab dengan rudal jenis ini, lewat platform peluncur Simbad, bedanya Simbad merupakan platform peluncur untuk dua rudal Mistral dan dioperasikan secara manual oleh operator. Simbad saat ini dipasang pada fregat TNI-AL kelas Van Speijk.

Sistem peluncur Sadral pada fregat AL Perancis

Siatem peluncur Sadral pada fregat AL Perancis

Selain Simbad dan Tetral, masih ada platform peluncur lain, yakni Sadral. Sadral pada prinsipnya mirip dengan Tetral, dimana sistem rudak diluncurkan secara remote otomatis dari PIT. Bedanya Sadral mengusung enam peluncur rudal Mistral. Baik Simbad, Tetral dan Sadral, ketiganya dapat cepat untuk diisi ulang dan dapat ditebakkan secara salvo. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Tetral
Berat Sistem Peluncur : 600 Kg (termasuk 4 rudal)
Bearing : 310 derajat
Sudut Elevasi : -16 sampai 75 derajat
Berat rudal : 18.7 Kg
Panjang : 1.86 meter
Diameter : 0.09 meter
Kecepatan maksimum : 2.5 Mach